Alhamdulillah... Akhirnya malam ini bisa posting , bisa menulis itu rasanya sesuatu bangett...:))
karna kesibukan sebagai mommy dan juga rasa malass yang jadi alasan utama.. hehehe...
Seminggu belakangan ini di rumah nenek & abahnya anak-anak ramai dengan pengupas kacang kulit , mereka bukan saja terdiri dari ibu-ibu yang berusia dewasa , anak-anak pun ikut serta...
dengan upah 2000 / kg , rasanya cukup lumayan untuk mereka yang kegiatan sehari-harinya banyak waktu luang terbuang, seperti para ibu-ibu, setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, kebanyakan dari mereka hanya duduk- duduk mengobrol. daripada bengong, kata mereka, lebih baik dialihkan kegiatannya dengan mengupas kacang.Anak- anak pun ikut serta, karena merekapun bisa menambah uang jajan dari hasil mengupas kacang. karena banyaknya anak-anak, kaka pun turut senang, dia merasa punya banyak teman yang bisa diajak bermain disela- sela kegiatan mereka mengupas kacang.
Tetapi sudah dua hari ini, kegiatan mengupas kacang dihentikan, rumahpun tidak lagi seramai seminggu yang lalu , karena menurut bapak, harga kacang kupas sedang turun dan merugi, jika dilanjutkan akan semakin banyak kerugiannya, maka kegiatan mengupas kacang pun dihentikan sementara waktu, dan bapak pun beralih menjual kacang kulit.
Mengupas kacang, itulah bisnis musiman yang bapak jalani, yang terjadi hanya dua kali dalam satu tahun. Ingatanku melayang di dua puluhan tahun yang lalu, saat aku berusia 9 atau 10 tahun. Sama dengan anak- anak yang kini ikut mengupas kacang, akupun tak ketinggalan ikut serta mengupas kacang, dengan imbalan kalau tidak salah 100 /200 perak perkilo.Sekalipun aku anak yang punya pemilik kacang yaitu bapak, tapi tidak ada perlakuan istimewa bagiku, upah sama dengan mereka yang notabene orang lain.
Sedari kecil, aku merasakan didikan bapak yang keras.Sering protes & menangis, kenapa aku tidak seperti anak kebanyakan yang bebas bermain, dan bisa mendapatkan apa yang diinginkan tanpa syarat. Karena aku adalah anak sulung, di kelas 4 sd aku sudah diajarkan berdagang,dagangan yang dipercayakan bapak dan emak adalah berjualan minyak goreng. Masih teringat , aku hampir hampir tidak pernah ikut kegiatan extra kulikuler yang diadakan di hari minggu, karena aku sibuk berjualan. :)
Namun seiring berjalannya waktu, hingga kini aku dewasa dan menjadi ibu dari dua orang anak, aku sangat- sangat berterimaksih dengan didikan bapak & emak, aku mengerti setelah menjadi orang tua, bagaimana rasanya mencari rizki yang halal untuk menghidupi anak-anak. Dulu, ketika aku menginginkan sesuatu dan ingin mendapatkannya, aku harus melakukan suatu pekerjaan terlebih dahulu. Pernah di suatu waktu, karena kodrat sebagai anak perempuan, dan sudah agak besar yang sudah mengerti akan perhiasan, aku menginginkan sebuah kalung emas bukan sekedar perhiasan imitasi, karena melihat teman- teman sebayaku banyak yang memakainya. Ketika ku merayu & merajuk pada emak untuk membelikanku seuntai kalung emas, emak tidak serta merta langsung mengiyakannya. Aku akan bisa memperolehnya dengan syarat mengantar es lilin di pagi hari & mengambilnya di sore hari yang dititipkan di warung-warung.
Pekerjaan itu kulakukan selama hampir satu bulan lamanya di waktu libur sekolah. terkadang aku malu dengan pemilik warung , yang kelihatan masam mukanya ketika mengantarkan atau mengambil termos es lilin tersebut, tapi demi mendapatkan seuntai kalung emas, aku menebalkan muka, hehehe..
Usahaku tidak sia-sia, aku mendapatkan 5 gram kalung emas + liontinnya, itulah perhiasan pertama yang aku pakai, selain yang primer seperti anting yang kudapatkan dengan bersusah payah terlebih dahulu.
Dan Kini, aku sangat-sangat bersyukur mendapatkan didikan seperti itu yang kuperolah dari kedua orang tua. Terimaksih bapak, terimaksih emak.Ya Allah Berikanlah keduanya kesehatan, muliakanlah keduanya.. dan izinkanlah aku untuk bisa membahagiakan mereka, berikanlah aku kesempatan itu sebelum keduanya lanjut usia,. Aamiin